1
1

Rumah Bani Muqarrin

Posted on

Saat itu pada awal tahun 7 Hijriyah atau tepatnya penghujung bulan Muharam, Rasulullah SAW bersama kaum muslimin mengepung Khaibar. Pada saat itu, pasukan muslimin sedang mengalami kelelahan yang sangat menguras tenaga aat pengepungan dan peperangan. Namun pada sisi lain, Allah memberikan kemenangan besar kepada mereka dalam bentuk yang bermacam-macam.

Pada saat kaum muslimin sedang berada pada puncak peperagan, datanglah seorang utusan Muzainah sebagai seorang muslimin dan mukmin yang dipimpin oleh Bani Muqarrin. Kedatangan mereka sangatlah tidak disangka-sangka. Utusan Muzainah tersebut terdiri dari empat bersaudara, yaitu Nu’man, Nu’aim, Suwaid, dan Abdullah. Seiring dengan berjalannya waktu jumlah utusan yang datang terus bertambah hingga mencapai lebih dari empat ratus orang. Setelah itu mereka langsung bergabung dengan kaum muslimin dan memberikan pengorbanan yang baik pada saat itu.

Saat di medan perang, Ali bin Abi Thalib memberikan serangan mematikan kepada Marhan yang merupakan salah satu kesatria Yahudi. Kejadian tersebut membuat hati kesatria kafir ketar-ketir saat melihatnya. Kemudian benteng-benteng mereka mulai jatuh satu persatu. Kemudian para lelaki Yahudi ditawan bersama dengan istri dan anak mereka, serta harta benda mereka dikuasi oleh kaum muslimin. Namun di sisi lain, datanglah Muhajirin Habasyah yang telah lama berpisah. Kedatangan para Muhajirin tersebut dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib dan membuat Rasulullah SAW bersabda:

Aku tidak tahu mana di antara dua hal yang membuatku senang; penaklukan Khaibar ataukah kedatangan Ja’far.”

Selain kedatangan Muhajirin Habasyah, di saat yang hampir bersamaan, datanglah orang-orang Asy’ari dari Yaman yang berada dalam kepemimpinan Abu Musa Al-Asy’ari – Abdullah bin Qais. Hal seperti itulah kegembiraan yang dirasakan oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin pada saat itu karena serangkaian kejadian dan penaklukan yang data silih berganti dalam perang Khaibar.

Hari penaklukan Khaibar merupakan salah satu momen pertama Nu’man di dalam medan perang pertempuran Islam dan keimanan. Sejak saat itu, Nu’man bin Muqarrin Al-Muzani menjelma sebagai kesatria yang dapat mengusir lawan, seorang mukmin yang tulus iman, dan seorang yang memiliki tekad yang kuat dan tidak pernah tumpul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *